Menolak Punah di Era Modern, Eksistensi Balok Menes Kuliner Legendaris Pandeglang Harus Diperjuangkan

Foto: Ilustrasi
Di tengah gempuran kuliner modern dan makanan cepat saji, sebuah warisan kuliner legendaris asal ujung barat Pulau Jawa, Kue Balok khas Menes, kini tengah menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan eksistensinya. Makanan tradisional berbahan dasar singkong asal Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten ini dinilai memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak agar tidak lenyap tergerus zaman.
Berdasarkan data sejarah, kue balok Menes bukan sekadar kudapan biasa. Jajanan ini menyimpan jejak sejarah panjang yang diyakini sudah ada sejak zaman kolonial. Lahir dari kondisi keterbatasan pangan di masa lalu, masyarakat memanfaatkan singkong sebagai alternatif pengganti beras. Dinamakan “balok” karena setelah singkong dikukus dan ditumbuk secara manual, adonan tersebut dicetak memanjang menyerupai balok kayu bantalan rel kereta api.
Keunikan Cita Rasa dan Proses Tradisional
Secara fisik, kue balok Menes sekilas mirip dengan getuk yang ada di Jawa Tengah atau Yogyakarta, namun memiliki karakteristik rasa yang sangat kontras. Jika getuk identik dengan rasa manis, balok Menes menawarkan perpaduan rasa gurih, asin, dan tekstur lumer di mulut.
Keunikan ini lahir dari kombinasi bahan-bahannya:
- Bahan Utama: 100% singkong pilihan tanpa tambahan bahan kimia atau pengawet.
- Topping Autentik: Minyak kelapa encer, taburan bawang merah goreng yang harum, serta selipan serundeng kelapa pekat di bagian dalam lipatan kue.
- Kemasan Alami: Menggunakan alas daun pisang yang dipotong rapi menggunakan pelepah batang pohon kiray, menjaga aroma alami tetap terjaga.
Di lapangan, salah satu pusat perburuan utama kuliner ini berada di kawasan Pasar Menes yang terletak dekat Alun-alun Menes, serta beberapa titik di sepanjang jalur raya Labuan-Pandeglang. Harganya pun sangat merakyat, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus, menjadikannya panganan yang mengenyangkan sekaligus ekonomis bagi wisatawan maupun warga lokal.
Ancaman Regenerasi di Lapangan
Meski masih diburu oleh para perantau sebagai oleh-oleh dan menjadi hidangan alternatif saat hari besar seperti Lebaran, para perajin lokal di lapangan mulai menyuarakan kekhawatiran.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas produsen kue balok saat ini adalah para lansia yang telah memproduksi kuliner ini secara turun-temurun selama puluhan tahun. Masalah utama yang mengancam adalah minimnya minat generasi muda—baik dari sisi konsumen maupun dari sisi penerus perajin yang mau mempelajari teknik pembuatan tradisional secara manual menggunakan alu dan lesung. Pembeli kue balok saat ini didominasi oleh kalangan orang dewasa, orang tua, dan wisatawan luar daerah.
Upaya Penyelamatan Eksistensi
Melihat kondisi tersebut, eksistensi balok Menes harus diperjuangkan secara kolektif. Pangan lokal ini bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan identitas budaya dan bukti ketahanan pangan lokal masyarakat Pandeglang.
Diperlukan langkah nyata seperti modernisasi kemasan tanpa menghilangkan unsur daun pisang, promosi digital yang menyasar Gen Z, serta pelibatan kuliner lokal ini dalam acara-acara resmi pemerintahan daerah. Tanpa adanya langkah regenerasi dan keberpihakan dari masyarakat serta pemerintah, salah satu ikon kuliner terbaik Banten ini dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan dalam buku sejarah.